dimanche 24 mars 2013

Silent Sunday...

| |



La passion des lettres

Kata-kata halus yang disastra melalui penulisan jangan disalah arti-fahamkan... meski pun ianya bernada biasa...
 namun ilham berkata halus kok terpendam didalam diam tapi bukan membisu... walhal mengapa payahnya untuk dikarangi umpama sebuah tulisan berukir seni yang dipahat dengan telitinya sehingga sampai dipinggiran satu-satunya perenggan yang akhirnya berjaya disempurnakan meski pun ngerti ianya bernada sumbang yang disusuli oleh titikan noktah ...

Andainya diri ini bijak bergurindam, pantun, seloka, karmina juga syair... alangkah bagus sesungguhnya, begitu senang berkarang tanpa terkial-kial memerah akal mencari-cari petanda sebuah ilham nan bernas namun halus nadanya... apakan daya sekadar c & p yang termampu dibuktikan... meminjam hujah-hujah pedoman dari para cendekiawan sastra yang berilmu cemerlang lagi gemilang...

Hari minggu nan sepi tanpanya... justeru semahunya diri dibuai dendang dengan kata-kata pedoman sebagai kesedaran bagi mengimbangkan rasa perasaan yang tengah ter...kelat maung dek suasana nan kusam...


 Pantun
Kayu cendana diatas batu
Sudah diikat dibawa pulang
Adat dunia memang begitu
Benda yang buruk memang terbuang



Gurindam
Pabila banyak mencela orang
Itu lah tanda dirinya kurang

Jika hendak mengenal orang berbangsa,
lihat kepada budi dan bahasa,

Jika hendak mengenal orang yang berakal,
di dalam dunia mengambil bekal.

 Jika hendak mengenal orang yang baik perangai,
lihat pada ketika bercampur dengan orang ramai.

 Akhirat itu terlalu nyata,
kepada hati yang tidak buta.



Karmina
Sudah gaharu cendana pula
Sudah tahu masih bertanya pula.



 Diambil dari Perintis Sastra 1951.

Photo: L'Express.